Laman

Selasa, 03 Maret 2015

Pembuatan Kompos



I.         ACARA   V        : Pembuatan Kompos
II.      TANGGAL        : 23 September 2014
III.   TUJUAN           
1.  Mampu membuat kompos dengan bahan dasar kotoran kandang
IV.   DASAR TEORI
Kompos adalah hasil penguraian parsial/tidak lengkap dari campuran bahan-bahan organik yang dapat dipercepat secara artifisial oleh populasi berbagai macam mikroba dalam kondisi lingkungan yang hangat, lembap, dan aerobik atau anaerobik (Modifikasi dari J.H. Crawford, 2003). Sedangkan pengomposan adalah proses dimana bahan organik mengalami penguraian secara biologis, khususnya oleh mikroba-mikroba yang memanfaatkan bahan organik sebagai sumber energi. Membuat kompos adalah mengatur dan mengontrol proses alami tersebut agar kompos dapat terbentuk lebih cepat. Proses ini meliputi membuat campuran bahan yang seimbang, pemberian air yang cukup, pengaturan aerasi, dan penambahan aktivator pengomposan.
Sampah terdiri dari dua bagian, yaitu bagian organik dan anorganik. Rata-rata persentase bahan organik sampah mencapai ±80%, sehingga pengomposan merupakan alternatif penanganan yang sesuai. Kompos sangat berpotensi untuk dikembangkan mengingat semakin tingginya jumlah sampah organik yang dibuang ke tempat pembuangan akhir dan menyebabkan terjadinya polusi bau dan lepasnya gas metana ke udara. DKI Jakarta menghasilkan 6000 ton sampah setiap harinya, di mana sekitar 65%-nya adalah sampah organik. Dan dari jumlah tersebut, 1400 ton dihasilkan oleh seluruh pasar yang ada di Jakarta, di mana 95%-nya adalah sampah organik. Melihat besarnya sampah organik yang dihasilkan oleh masyarakat, terlihat potensi untuk mengolah sampah organik menjadi pupuk organik demi kelestarian lingkungan dan kesejahteraan masyarakat (Rohendi, 2005)
   Secara alami bahan-bahan organik akan mengalami penguraian di alam dengan bantuan mikroba maupun biota tanah lainnya. Namun proses pengomposan yang terjadi secara alami berlangsung lama dan lambat. Untuk mempercepat proses pengomposan ini telah banyak dikembangkan teknologi-teknologi pengomposan. Baik pengomposan dengan teknologi sederhana, sedang, maupun teknologi tinggi. Pada prinsipnya pengembangan teknologi pengomposan didasarkan pada proses penguraian bahan organik yang terjadi secara alami. Proses penguraian dioptimalkan sedemikian rupa sehingga pengomposan dapat berjalan dengan lebih cepat dan efisien. Teknologi pengomposan saat ini menjadi sangat penting artinya terutama untuk mengatasi permasalahan limbah organik, seperti untuk mengatasi masalah sampah di kota-kota besar, limbah organik industri, serta limbah pertanian dan perkebunan. Teknologi pengomposan sampah sangat beragam, baik secara aerobik maupun anaerobik, dengan atau tanpa aktivator pengomposan. Aktivator pengomposan yang sudah banyak beredar antara lain: PROMI (Promoting Microbes), OrgaDec, SuperDec, ActiComp, BioPos, EM4, Green Phoskko Organic Decomposer dan SUPERFARM (Effective Microorganism)atau menggunakan cacing guna mendapatkan kompos (vermicompost).
 Setiap aktivator memiliki keunggulan sendiri-sendiri. Pengomposan secara aerobik paling banyak digunakan, karena mudah dan murah untuk dilakukan, serta tidak membutuhkan kontrol proses yang terlalu sulit. Dekomposisi bahan dilakukan oleh mikroorganisme di dalam bahan itu sendiri dengan bantuan udara. Sedangkan pengomposan secara anaerobik memanfaatkan mikroorganisme yang tidak membutuhkan udara dalam mendegradasi bahan organik.
V.                ALAT DAN BAHAN
A.    Alat
1.      Drum Plastik
2.      Cangkul
B.     Bahan
1.      Kotoran kandang sapi
2.      Daun-daunan legume
3.      Dedak
4.      Dolomite
5.      Urea
6.      Decomposer ( EM4, standec, bidang kompos )
7.      Air
VI.             CARA KERJA
A.    Perlakuan
1.      Kotoran kandang + bahan pekaya hara yang telah di cacah ( daun legume, dedak, arang , sekam  guano,)
2.      Kotoran kandang + bahan pekaya hara yang telah di cacah ( daun legume, dedak, arang , sekam  guano,)+ ( dolomite + urea )
3.      Kotoran kandang + bahan pekaya hara yang telah di cacah ( daun legume, dedak, arang , sekam  guano,)+ ( dolomite + urea )+ decomposer ( stardec )
4.      Kotoran kandang + bahan pekaya hara yang telah di cacah ( daun legume, dedak, arang , sekam  guano,)+ dolomite + urea ) decomposer ( EM-4)
5.      Kotoran kandang + bahan pekaya hara yang telah di cacah ( daun legume, dedak, arang , sekam  guano,)+ ( dolomite + urea )+ decomposer ( bidang kompos
B.     Cara Pembuatan
1.      Buat pengantdukan bahan kompos setinggi 60 cm yang terdiri dari 6 lapisan , setiap lapisan setebal 10 cm , berselang seling di antara kotoran kandang dan bahan pengkaya
2.      Pada tiap lapisan taburkan decomposer dengan takaran sesuai ketentuan
3.      Tambahakan air secukupnya sehingga kadar lengas mencapai sekitar 50 %
4.      Setiap 2 hari atau jika temperature > 50 % ( cek dengan thermometer), tumpukan di bongkar dan di bolak-balik agar aerasi dan temperatur optimum . jika bahan terlalu kering tambahkan air secukupnya, dan buat tumpukan kembali seperti semula
5.      Kompos akan matang sekitar 4-6 minggu, kompos di ayak dengan ayakan , bahan yang tidak lolos saringan dikomposkan kembali.


C.     Pengamatan
1.      Setiap minggu di lakukan pengaturan temperatur , volume gundukan, dan kadar lengas.
2.      Pada akhir dan fisik, kompos sudah matang dan bermutu apabila :
·         Struktur ramah, ringan, kersai, lunak dan tidak menggumpal maupun melumpur
·         Warna kompos coklat kehitaman, apabila terlalu hitam disebabkan oleh kondisi pengomposan yang terlalu basah(anaerob).jika terlalu cerah disebabkan oleh kondisi pengomposan yang tterlalu kering ( aerob )
·         Kadar air sekitar 30 % apabila dip eras dengan tangan tidak ada air yang menetes
·         Aroma menyerupai humus tanah yaitu agak harum ( tidak berbau busuk )
·         pH sekitar 6-7. Apabila pH terlalu masam/ rendah berarti kondisi aerasi saat proses pengomposan kurang bagus
·         kadar bahan organic 30-60% , nisbah C/N sekitar 15
D.    Sampel kompos yang sudah matang dianalisis di laboraturium yang meliputi :
a.       Kadar unsur N,P,K dan BO ( menghitung nisbah C/N untuk menetukan kematangan kompos ). Jika C/N < 20 jikaC/N mendekati 10-12 merupakan kompos dengan kematangan / proses dekomposisi yang sudah sempurna
b.      Kadar lengas kompos,pH dan DHL
VII.        HASIL PENGAMATAN
Untuk Mengetahui hasil dari kompos yang telah kita buat dan telah kita amati , kita dapat melakukan pengamatan ini dengan cara di antaranya yaitu :
1.      Tekstur pada kompos  : Hasil Tekstur  kompos yang kita buat yaitu remah
2.      Bau yang di hasilkan kompos : seharusnya kompos yang sudah matang ataupun berhasil bau, namun hasil dari pengamatan kompos yang kita buat dan kita amati, kompos yang kita buat terasa bau tanah
3.      Warna pada kompos : Warna yang di hasilkan dari kompos yang telah di buat ialah memiliki Coklat kehitaman Tua
4.      Kelembaban yang terdapat pada kompos yang di buat yaitu Terlalu lembab
5.      Kondisi yang terdapat pada kompos yaitu panas
               



            Gambar 1 : Kompos




            Gambar 2: Kompos


VIII.     PEMBAHASAN
Kompos merupakan Hasil perombakan bahan organic oleh mikroorganisme dengan hasil akhir berupa bahan yang memiliki nisbah C/N yang rendah (<20). Dalam praktikum yang kita lakukan dalam acara lima ini kita mencoba membuat kompos , dimana dalam membuat kompos ini kita menggunakan alat ataupun bahan yang kita gunakan yaitu bahan kotoran sapi , arang sekam dan daun-daunan legume, dedak, dolomite,urea, guano, caking telur , decomposer (EM4, stardec, biang kompos),air dan kemudian dalam pembuatan kompos ini kita menggunakan alat yaitu cangkul dan alat pengaduk atau kayu. Pembuatan kompos yang kita lakukan ini bertujuan yaitu mampu membuat kompos dengan bahan kotoran kandang , dan dalam memlakukan pembuatan kompos ini kita harus mengetahui cara pembuatanya yaitu seperti buat gundukan bahan kompos setinggi 60 cm yang terdiri dari enam lapisan , setiap lapisan memiliki ketebalan 10 cm , berselang seling antara kotoran kandang dan bahan perkaya.
 kemudian pada tiap lapisan taburkan dekomposer dengan takaran sesuai ketentuan, tambahkan air  secukupnya sehingga kadar lengas mencapai sekitar 50 % dan setiap dua hari atau jika temperatur > 50 % ( cek dengan thermometer), tumpukan di bongkar dan di bolak balik agar aerasi dan temperatur optimum, jika bahan terlalu kering , tambahkan air secukupnya , dan buat tumpukan kembali seperti semula, dan kemudian kompos akan matang sekitar 4-6 minggu, kompos di ayak dengan ayakan , bahan yang tidak lolos mata saringan dikomposan kembali. Untuk mendapatkan hasil ataupun keberhasilan dalam membuat kompos kita dapat melakukan pengamatan setiap 2 minggu sekali dan di aduk bila lembab, jika kering di kasih air secukupnya tidak boleh kelebihan , karena jika kelebihan air  maka akan lembab sehingga akan banyak tumbuh jamur pada kompos tertentu, sedangkan kekeringan tidak bagus karena di dalam kompos yang belum jadi , proses dekomposisi pada kompos di bantu oleh mikroorganisme sehingga membutuhkan air dalam proses tersebu, dan jika kompos kering dan kekurangan air maka proses pembusukan pada kompos pun lama, maka itu kita harus membolak balik kompos sehingga merata pembusukan tersebut. Untuk mengetahui cirri-ciri kompos yang sudah jadi atau sudah matang yaitu; dengan tidak tercium baunya, adan kemudian tidak adanya mikroorganisme yang terdapat di kompos, dan kemudian kompos tidak berjamur, warna pada kompos kehitaman tua.
Dalam praktikum pembuatan kompos yang kita lakukan,  kita telah mengetahui hasilnya dimana hasil yang kita ke tahui ialah pada warna yaitu kehitaman tua dan baunya tercium tanah dan tekstur pada komposnya remah, dan kelembaban sangat lembab, dan memiliki suhu panas. Syarat lokasi yang bagus untuk pembuatan kompos adalah di antaranya pada bangunan yang memiliki lantai rata, keras dan bebas genangan air, serta ada atap untuk melindungi dari panas mataharu langsung dan air hujan dan dekat dengan sumber bahan organik,  jerami daun legume,  pupuk kandang, sampah, dedak, arang sekam dan dekat sumber air dan pengakutan mudah.
IX.           KESIMPULAN
Pada praktikum yang kita lakukan dan kita amati kita dapat menyimpulkan sebagai berikut :
1.     Kompos yang  memiliki warna hitam tua dan berjamur kompos tersebut tidak jadi
2.     Kompos merupakan Hasil perombakan bahan organic oleh mikroorganisme dengan hasil akhir berupa bahan yang memiliki nisbah C/N yang rendah (< 15). Dalam praktikum yang kita lakukan dalam acara lima ini kita mencoba membuat kompos
3.     Kompos yang kita amati memiliki bau , dan warna hitam tua, kelembabanya sangat lembab, dan testur kompos remah
4.     Kompos yang sudah matang memiliki C/N < 15
5.     Kompos yang ideal apabila C/N 10-12
6.     Kompos yang sudah jadi bisa di lihat dengan cara melihat atau merasakan bau, dan warna, testur pada kompos, kemudian kelembaban.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2014. Buku Petunjuk Praktikum Kesuburan dan Kesehatan Tanah , Institut Pertanian STIPER, Yogyakarta
Rinsema,W.T.1983.Pupuk Dan Cara Pemupukan bhratara karya aksara. Jakarta
Schroeder,D.1983.Soil-Facts And Concept. Int.potash institute bern, switzerland




Uji kesuburan tanah



I.                 ACARA   IV   : Uji Kesuburan Tanah
II.              TANGGAL    : 19 September 2014
III.           TUJUAN        :
a.       Mengetahui kesuburan tanah actual
b.      Mengetahui pengaruh pupuk terhadap kesuburan tanah

IV.           DASAR TEORI
Kesuburan tanah merupakan kunci utama keberhasilan suatu usaha tani. Bagaimanapun sempurnanya suatu proses usaha tani akan tetapi jika tidak didukung dengan kesuburan tanah yang  memadahi pasti tidak akan membawa hasil yang maksimal. Sebagai contoh kasus yang umum terjadi pada petani Indonesia, para petani sering memberikan pupuk kimia yang berlebihan pada lahannya akan tetapi produksinya belum seperti yang diharapkan. Permasalahan pada kasus diatas adalah karena tingkat kesuburan tanah yang rendah sehingga berapapun pupuk yang diberikan tidak akan bisa terserap oleh tanaman (Maspary, 2011).
Konsep awal kualitas tanah bergantung  dengan berbagai sifat-sifat tanah yang berkontribusi terhadap produktivitas tanah, dengan sedikit pertimbangan definisi untuk kesuburan tanah itu sendiri. Dalam konteks pertanian, kualitas tanah biasanya didefinisikan sebagai produktivitas tanah dan khususnya adalah kapasitas tanah untuk mempertahankan dan memelihara pertumbuhan tanaman. Dari perspektif produksi tanaman pertanian, kualitas tanah dapat didefinisikan sebagai kapasitas tanah atau kebugaran tanah untuk mendukung pertumbuhan tanaman tanpa mengakibatkan degradasi atau merusak lingkungan (Gregorich dan Carter, 1997).
Analisis tanah dapat dilakukan dengan analisis cepat di lapangan atau analisis rutin di laboratorium. Analisis tanah merupakan alat bantu untuk menilai kesuburan tanah, terutama keberadaan hara makro dan hara mikro. Perkembangan cara analisis melaju dengan teknologi yang ada. Penggunaan alat mutakir dimaksudkan agar analisis menjadi lebih cepat, akurat, dan hemat. Analisis kimia tanah dapat dipilahkan menjadi cara gravimetri, titimetri, atau elektronis (Rosmarkam dan Yuwono, 2002).
Uji tanah dalam kaitannya dengan rekomendasi pemupukan di Indonesia masih menggunakan pelarut singlenutrient soil analysis (SNSA). Penggunaan cara analisis tersebut sudah berlangsung sejak tahun 1970-an, tetapi karena keterbatasan dana penelitian, pelaksanaan uji tanah belum terprogram secara berkelanjutan dan rekomendasi pemupukan spesifik lokasi untuk berbagai komoditas tanaman belum terealisasi. Rekomendasi pemupukan P dan K untuk padi sawah dapat menggunakan perangkat uji tanah sawah (PUTS). PUTS dapat mengukur kadar hara P dan K serta pH tanah secara langsung di lapangan dengan cepat, mudah, dan cukup akurat selama pengambilan contoh tanah dilakukan dengan benar. Namun takaran pupuk P dan K yang diberikan belum mempertimbangkan tekstur tanah. Tanah sawah yang bertekstur kasar dan halus dengan status hara P dan K yang dinilai rendah akan memperoleh takaran pupuk yang sama(Al-Jabri, 2007).
V.              ALAT DAN BAHAN
A.    Alat
1.      Cetok
B.     Bahan
1.      Tanah pasir
2.      Tanah lempung( latosol , grumusol)
3.      Benih jagung
4.      Pupuk anorganik
5.      Pupuk organic
6.      Air pembenah tanah
VI.             CARA KERJA
1.      Kesuburan Aktual
a.       Polybag yang berlubang di bagian bawahnya diisi tanah lapis oleh pada beberapa jenis tanah
b.      Masukan benih jagung , sirami dengan air setiap hari
c.       Amati kenampakan visual( morfologi dan warna ) tanaman jagung  pada setiap pot, kemudian di ukur dan di catat tinggi tanaman dan jumlah daun.
d.      Pengamatan di lakukan tiap minggu slama 8 minggu
2.      Pengaruh pupuk
a.       Masing-masing kelompok mengambil tanah pasiran dan tanah lempungan ( lapis olah ) yang telah di siapkan.
b.      Masukan tanah ke dalam polybag yang berlubang di bawahnya, Tanami setiap pot dengan 3 benih jagung, setelah tumbuh , di pilih satu tanaman yang pertumbuhanya terbaik untuk di pelihara.
c.       Sirami dengan secukupnya tiap hari agar tanaman tumbuh dengan baik.
d.      Perlakuan pupuk pada masing-masing kelompok sesuai dengan yang telah di tentukan , yaitu:
1.      Tidak di beri pupuk
2.      Diberi pupuk N P K  1 sendok the.
3.      Di beri pupuk NP 1 sendok the
4.      Di beri pupuk NK
5.      Di beri pupuk N
6.      Diberi pupuk P
7.      Diberi pupuk K
8.      Diberi pupuk K Dan
9.      Diberi pupuk organic
e.       Pengamatan di lakukan setiap minggu yang meliputi : tinggi tanaman . kenampakan visual ( warna , morfologi ) dan jumlah daun
f.       Pada akhir percobaan, tanaman di potong tepat pada pangkal batangnya, timbang bobot segar dan bobot kering brangkasan ( shoot ) . bobot kering di peroleh setelah jaringan tanaman tersebut di oven pada temperature 600C elama .> 48 jam
Perhitungan analisis kesuburan tanah dengan Bahan Jagung  dengan pupuk KCl klompok IV Dimana kita menganalisis sebagai berikut :
·         Untuk tanaman dengan tanah Lempung
      Tinggi tanaman     =  38 + 31 + 37      = 35,3 cm
                                              3           
      Jumlah daun          =  5 + 4 + 3            = 4   cm
                                                         3
       Warna Daun         = Hijau

      Panjang akar          =  7 + 12 + 53       = 24  cm
                                              3
       Jumlah akar          = 7 + 10 + 7          = 8    cm
                                             3
       Diameter batang   = 0,3 + 0,5 + 0,9   = 0,4 cm
                                                3

·         Untuk tanaman dengan tanah Pasir
       Tinggi tanaman    =  34 + 27 + 21      = 27,3 cm
                                              3           
        Jumlah daun        = 5 + 6 + 6             = 15,7 cm
                                                          3                    
       Warana daun        = hijau
        Pajang akar          =  27 + 36 + 16     = 26,3 cm
                                                 3
        Jumlah akar         =  9 + 9 + 7           = 8,33  cm
                                             3
        Diameter batang  =  0,4 + 0,5 + 0,4  =  o,5  cm
                                                
VII.          PEMBAHASAN
Pada kegiatan yang kita lakukan pada acra enam ini kita melakukan pengamatan kesuburan tanah dengan menggunakan bahan jagung dan kemudian dalam melakukan pengamatan kesuburan tanah ini kita dapat menggunakan alat sebagai mempermudah dalam melakukan pengamatan tanaman yang kita tanam, alat yang kita gunakan yaitu Ceto  kemudian bahan yang kita pakai ialah tanah lempung, benih jagung tanah pasir, polibag bahan tanam , dan dimana tujuan dalam kesuburan tanah ini ialah mengetahui kesuburan actual tanah, dan mengetahui pengaruh pupuk terhadap kesuburan tanah, sebelumnya kita dapat mengartikan kesuburan ini, kesuburan tanah merupakan Mutu tanah untuk bercocok tanam , yang di butuhkan saling tindak  ( interaction ) sejumlah sifat fisika, kimia, dan biologi tanah  yang menjadi habitat akar-akar aktif tanaman, nah kesiuburan tanah juga bias di artikan sebagai hasil panen yang di ukur dengan bobot bahan kering yang di pungut  per satuan luas.
Pemupukan di perlukan untuk menambah keharaan pada tanah yang ke adaanya makin lama makin tipis karena di manfaatkan secara kontinyu oleh tanaman slama pertumbuhanya mencapai produksi yang tinggi dan kualitas yang baik , sedang pengapuran sangat penting artinya dalam usaha meningkatkan produktivitas tanah-tanah masam yang sebenarnya cukup luas di Indonesia
Dalam praktikum yang kita lakukan dalam mengamati kesuburan tanah kita dapat melakukan dengan bahan tanam seperti tanah berpaasiran dan tanah lempung , dimana tanah pasir memiliki unsure makro , dan tanah lempung memiliki unsure mikro, kemudian hasil dari pengamatan yang di lakukan setiap minggu yaitu pada bahan benih jagung di antaranya
           Pada tanah pasir , hasil dari pengamatan minggu pertama dan minggu ke dua dan minggu ke tiga dan minggu ke empat pada tinggi tanaman yaitu bisa kita ambil rata-rata 23 cm dan jumlah daun dari minggu pertama sampai minggu ke Empat  yaitu 3 dan warna daun dari minggu pertama samapai ke empat yaitu Hijau, dan panjang akar dari minggu pertama sampai ke empat yaitu 24 cm kemudian jumlah akar dari minggu pertama samapi minggu ke empat yaitu 8 cm dan diameter batang 0,24. Ini yang kita amati dengan menggunakan tanah Lempung, dan kemudian menggunakan tanah berpasir kita bisa dapat mengambil rata-rata yaitu dengan tinggi tanaman mulai dari minggu pertama sampai minggu ke empat yaitu 17,5 cm dan jumlah daun dari inggu pertama sampai minggu ke empat yaitu 3,42 cm dan warna daun dari minggu pertama saapai minggu ke empat yaitu Hijau dan pajang akar , 26,3 dan jumlah akar 8,3 kemudian diameter batang 0,30.
           Dalam praktikum ini kita dapat membadingkan dari pupuk-pupuk yang kita gunakan dalam uji kesuburan yaitu dari pupuk Urea dengan menggunakan tanah berpasir yaitu dengan tinggi tanaman 35 cm, dan jumlah daun 5 , dan diameter 0,6  dan panjang akar 2,8 cm  kemudian jumlah akar 5 kemudian pada tanah yang berstruktur lempung bisa kita lihat dari tinggi tanaman, 20 cm dan jumlah daun 5 kemudian diameter 0,5 dan panjang akar 2,4 dan jumlah akar 4 
           Kemudian perbandingan pupuk KCl  dengan tanah yang berpasir pada tinggi tanaman yaitu 27,33 cm dan jumlah daun 5 kemudian diameter 0,47 dan panjang akar 26,33 cm dan jumlah daun 8,33 dan pada tanah lempung dengan tinggi tanaman 35,3 dan jumlah daun 5 kemudian diameter 0,13 dan panjang akar 25,7 dan jumlah akar 4
           Kemudian perbandingan pupuk Kontrol dengan tanah pasir yaitu dengan tinggi tanaman 6,6 cm dan jumlah daun 5,5 dan diameter , panjang akar dan jumlah akar tidak ada , karena mati, dan tanah yang berstruktur lempungan dengan tinggi tanaman, dan jumlah daun, diameter , panjang akar, jumlah akar, tidak ada karena mati.
           Kemudian perbandingan pupuk Nk yaitu dengan tanah berpasir dengan tinggi tanaman, dan jumlah daun, diameter, panjang akar, dan umlah daun semuanya Mati dan tidak ada yang tumbuh di karenakan kurangnya air yang di butuhkan pada kacambah tersebut. Kemudian tanah lempung dengan tinggi tanam 30 cm, dan jumlah daun 4 kemudian diameter 0,8 cm dan panjang akar 15 cm  dan jumlah akar 8.
VIII.       KESIMPULAN
Dalam acara yang kita lakukan kita dapat mengambil kesimpulan sebagai berikut :
1.      kesuburan tanah merupakan Mutu tanah untuk bercocok tanam , yang di butuhkan saling tindak  ( interaction ) sejumlah sifat fisika, kimia, dan biologi tanah  yang menjadi habitat akar-akar aktif tanaman
2.      Tanaman jagung lebih baik pertumbuhanya di banding di tanam di media lempung
3.      Kompos sangat mempengaruhi terhadap pertumbuhan ketinggian tanaman, tanaman dan diameter batang.
4.      Pupuk P Merangsang pertumbuhan akar sehingga dan aman dan memiliki akar paling panjang jika di pupuk menggunakan jenis pupuk ini
5.      Dari semua cara penamabahan unsure hara, media pasir lebih cocok untuk tanaman jagung dari pada media lempung tapi hal ini belum benar betul karena tardapat beberapa biji yang mati.
6.      Hasil rata-rata minggu pertama sampi minggu ke empat dengan tanah pasir yaitu tinggi tanaman 17,5 cm dan jumlah daun 3,42 , warna daun hijau, panjang akar  26,3 cm jumlah akar 8,3 , diameter batang 0,30
7.      Hasil rata-rata minggu pertama sampai minggu ke empat dengan tanah lempung yaitu tinggi tanaman 35,3 cm dan jumlah daun 5  warna daun hijau, panjang akar, 25,7, jumlah akar, 8 , diameter batang 0,13.
                             DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2014. Buku Petunjuk Praktikum Kesuburan dan Kesehatan Tanah , Institut Pertanian STIPER, Yogyakarta
Rinsema,W.T.1983.Pupuk Dan Cara Pemupukan bhratara karya aksara. Jakarta
Schroeder,D.1983.Soil-Facts And Concept. Int.potash institute bern, switzerland