Laman

Selasa, 03 Maret 2015

Analisis Data Meteorologi



I.          ACARA IV         : Analisis Data Meteorologi
II.        TANGGAL        : 19 Maret 2014
III.       TUJUAN                        :
1.    Melatih mahasiswa untuk mengolah dan menganalisis data meteorologi pertanian serta menyajikan dlam bentuk siap pakai.
2.    Mempelajari hubungan timbal balik antara anasir - anasir iklim.
IV.       TINJAUAN PUSTAKA
Dalam menganalisis data meteorology di suatu wilayah diperlukan adanya data cuaca bulanan salama satu tahun dari suatu stasiun meteorology, yang terdiri dari data curah hujan (CH), evaporasi (EV), suhu thermometer bola basah (TBB), suhu thermometer bola kering (TBK), panjang penyinaran (PP), intensitas penyinaran (IP). Selain itu juga diperlukan data untuk menganalisis regresi dan korelasi, data yang perlukan antara lain suhu (T), kelembaban (RH), panjang penyinaran (PP), intensitas penyinaran (IP), dan evaporasi (EV) bulanan selama satu tahun, yang diperoleh dari data diatas. Data disajikan dalam berbagai macam jenis, ada data mentah yang merupakan data asli dari suatu alat pengukur dan  belum diolah. Data matang merupakan data asli yang sudah diolah menjadi data yang dapat digunakan dalam beberapa aplikasi pengolahan yang berkaitan dengan data tersebut, dan data siap pakai merupakan data yang sudah diolah menjadi data yang dapat digunakan sebagai acuan tetap dan dapat dioperasikan dalam penentuan hal-hal yang berkaitan dengan data tersebut.
Untuk menentukan analisis regresi dan korelasi, sebaiknya dalam penghitungan menggunakan bantuan kalkulator, sehingga nantinya didapat suatu persamaan regresi linier: Y=a+bX, dimana Y merupakan perubahan tak bebas (faktor yang dipengaruhi), X merupakan perubahan bebas (factor yang mempengaruhi), a merupakan pengaruh faktor lain yang tidak dipengaruhi perubahan bebas, dan bmerupakan koefisien relasi (gradien garis). Sedangkan koefisien regresi yang bukan linier disimbolkan dengan (r).
Hujan adalah air yang jatuh ke permukaan bumi sebagai akibat terjadinya kondensasi dari partikel-pertikel air di langin/awan. Hujan diukur sebagai tinggi air yang jatuh di permukaan yang datar dalam periode waktu tertentu apakah harian, mingguan, bulanan atau tahunan. Tinggi air ini umumnya dinyatakan dengan satuan mm. Karakteristik curah hujan yang penting diketahui adalah : Intensitas hujan, menyatakan laju turunnya hujan dalam mm per jam. Lama hujan diartikan (a) periode waktu turunnya hujan pada intensitas tertentu yang dinyatakan dalam jam atau menit atau (b) total waktu dari awal sampai akhir suatu kejadian hujan. Pada keteknikan pengertian yang pertama yang digunakan. Total jumlah hujan adalah (a) hasil perkalian antara intensitas hujan dengan lama hujan, dalam satuam mm atau (b) banyaknya hujan yang jatuh pada suatu permukaan datar atau tertampung pada alat penakar hujan
Alat pengukur curah hujan secara umum dinamakan penakar hujan. Namun ada pula yang menyatakan penakar hujan itu adalah alat ukur curah hujan konvensional atau tidak otomatik. Penakar hujan ini hanya dapat digunakan untuk mengukur jumlah hujan saja, mempunyai bentuk silinder. Lingkaran penangkap hujan terbuat dari bahan anti bocor diletakan di bagian atas corong yang meneruskan air hujan yang tertangkap ke penerima. Peneriima ini harus mempunyai leher yang sempit untuk mengurangi kehilangan akibat penguapan, kemudian di bagian bawahnya merupakan tempat penampungan atau reservoarnya. Lingkaran penangkap luasnya antara 200 sampai 500 cm2 yang dirancang agar percikan hujan tidak keluar, yaitu dengan cara dindingnya cukup dalam dan corongnya semiring mungkin (lebih dari 45 °). Alat ini dibuat dari bahan metal tahan karat, fiberglas atau plastik..
V.   ALAT DAN BAHAN
a.    Alat
1.      Untuk analisi , penyajian dan inteerpestasi data yang di perlukan data bulanan selama satu tahun dari stasiun Meteorologi yang terdiri dari data hujan ( CH ) , evaporasi ( EV ) , suhu thermometer bola basah ( TBB
)  suhu thermometer bola kering  ( TBT ), pamjang penyinaran ( PP ) , dan intensitas penyinaran ( IP )
2.      Untuk menganalisis regresi dan korelasi di perlukan oleh data T, RH , PP , IP , dan EV bulanan selama satu tahun di peroleh dari data di atas
VI.   CARA KERJA
1.    Penyajian dan interprestasi data meteorologi pertanian.
Karena data selama satu tahun cukup banyak, maka perlu pembagian kerja. Mahasiswa/peserta dibagi menjadi 12 kelompok.  Masing – masing kelompok mengolah data tersebut saling di pertukarkan. Pengolahan data yang dilakukan adlah sebagai berikut :
a.    Curah Hujan
1.    Dihitung jumlah curah hujan perdasarian, tinggi CH Bulanan dan jumlah CH selama satu tahun.
2.    Dihitung jumlah hari hujan selama satu tahun.
3.    Dibuat histogram CH perdasarian dan CH bulanan selama satu tahun
4.    Dibuat pembahasan terhadap perilaku hujan tahunan tersebut. Antara lain : pola agihan CH perdasarian dan bulan selama satu tahun, bulan – bulan basah dan bulan kering menurut kriteria Mohr, dsb.
b.    Suhu Udara ( TBB dan TBK )
1.             Dihitung suhu harian dengan rumus :
2.             Dari hasil data diatas kemudian dihitunglah T bulanan :
3.             Dihitung T tahunan dengan rumus :
Dihitung suhu tahunan dengan rumus Braak, yaitu :
T tahun = 26.3 – 0,61 h
( h dalam hm )
4.        Dibuat grafik ayunan suhu bulan selama satu tahun

c.    Kelembaban
1.    Dihitung kelembaban nilai udara pada pukul 07.00, 13.00 dan 18.00 atas dasar selisih suhu bola basah dan suhu bola kering.
2.    Dihitung RH harian dengan rumus:
3.    Dihitung RH bulanan dengan rumus :
4.    Dibuat grafik ayunan RH bulanan selama satu tahun.
5.    Dibuat pembahasan mengenai pola ayunan T dan RH bulanan selama satu tahun pengamatan.
d.      Panjang Penyinaran ( PP ), Intensitas Penyinaran ( IP ), dan Evaporasi (EV)
1.    Dihitung rerata panjang penyinaran ( PP ), jumlah IP dan jumlah EV bulanan dalam satu tahun.
2.    Dibuat grafik rerata PP bulanan selama satu tahu.
3.    Dibuat grafik jumlah PP dan EV bulanan dalam satu tahun

2.    Analisis regresi dan korelasi.
Dari data harian selama satu bulan pada masing – masing kelompok, dihitung nilai korelasi dan regresi dari hubungan dua analisir iklim sebagai berikut :
PP   Vs       T                      IP        Vs       RH
PP   Vs       RH                  IP        Vs       EV
PP   Vs       EV                  T          Vs       RH
PP   Vs       IP                    T          Vs       EV
PP   Vs       T                      RH      Vs       ZV
a.  Analisis diatas dilakukan dengan menggunakan kalkulator, sehingga diperoleh :
1.    Persamaan regresi linier, Y = a + bX
  Y  = Perubahan tak bebas ( faktor yang dipengaruhi )
  X  = Perubahan bebas ( faktor yang mempengaruhi )
  a   = Pengaruh faktor lain yang tidak dipengaruhi perubahan bebas
  b   = Koefisien relasi ( gradien garis )
2.    Koefisien regresi ( r )
b.    Dari hubungan – hubungan tersebut dibuat grafik persamaan regresinya. Dan diberi pembahasan mengenai hubungan antar anasir tersebut, kemudian dibandingkan keeratan masing – masing hubungan.
B.  DATA KLIMATOLOGI  BULAN SEPTEMBER 2003
KEC : DEPOK           KABUPATEN: LEMAN       TINGGI TEMPAT : 137 M DPL

PP (%)
PP (%)
TA1
EV
KC. ANGIN 2 M
Bulan
06.00 - 18. 00
08.00 - 16.00

(mm)
(KM/JAM
jan








feb








mar







 
apr








mei








jun








jul








agu








sep








okt








nov








des

















jml








rata









DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2014. Panduan Praktikum Klimatologi Pertanian. Institut Pertanian STIPER. Yogyakarta. 

Benyamin, Lakitan. 1994. Dasar-dasar Klimatologi. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta

Tjasyono, Bayong HK. 2004. Klimatologi Edisi Kedua. Penerbit ITB. Bandung

















    

Tidak ada komentar:

Posting Komentar