Laman

Selasa, 03 Maret 2015

Pembuatan Kompos



I.         ACARA   V        : Pembuatan Kompos
II.      TANGGAL        : 23 September 2014
III.   TUJUAN           
1.  Mampu membuat kompos dengan bahan dasar kotoran kandang
IV.   DASAR TEORI
Kompos adalah hasil penguraian parsial/tidak lengkap dari campuran bahan-bahan organik yang dapat dipercepat secara artifisial oleh populasi berbagai macam mikroba dalam kondisi lingkungan yang hangat, lembap, dan aerobik atau anaerobik (Modifikasi dari J.H. Crawford, 2003). Sedangkan pengomposan adalah proses dimana bahan organik mengalami penguraian secara biologis, khususnya oleh mikroba-mikroba yang memanfaatkan bahan organik sebagai sumber energi. Membuat kompos adalah mengatur dan mengontrol proses alami tersebut agar kompos dapat terbentuk lebih cepat. Proses ini meliputi membuat campuran bahan yang seimbang, pemberian air yang cukup, pengaturan aerasi, dan penambahan aktivator pengomposan.
Sampah terdiri dari dua bagian, yaitu bagian organik dan anorganik. Rata-rata persentase bahan organik sampah mencapai ±80%, sehingga pengomposan merupakan alternatif penanganan yang sesuai. Kompos sangat berpotensi untuk dikembangkan mengingat semakin tingginya jumlah sampah organik yang dibuang ke tempat pembuangan akhir dan menyebabkan terjadinya polusi bau dan lepasnya gas metana ke udara. DKI Jakarta menghasilkan 6000 ton sampah setiap harinya, di mana sekitar 65%-nya adalah sampah organik. Dan dari jumlah tersebut, 1400 ton dihasilkan oleh seluruh pasar yang ada di Jakarta, di mana 95%-nya adalah sampah organik. Melihat besarnya sampah organik yang dihasilkan oleh masyarakat, terlihat potensi untuk mengolah sampah organik menjadi pupuk organik demi kelestarian lingkungan dan kesejahteraan masyarakat (Rohendi, 2005)
   Secara alami bahan-bahan organik akan mengalami penguraian di alam dengan bantuan mikroba maupun biota tanah lainnya. Namun proses pengomposan yang terjadi secara alami berlangsung lama dan lambat. Untuk mempercepat proses pengomposan ini telah banyak dikembangkan teknologi-teknologi pengomposan. Baik pengomposan dengan teknologi sederhana, sedang, maupun teknologi tinggi. Pada prinsipnya pengembangan teknologi pengomposan didasarkan pada proses penguraian bahan organik yang terjadi secara alami. Proses penguraian dioptimalkan sedemikian rupa sehingga pengomposan dapat berjalan dengan lebih cepat dan efisien. Teknologi pengomposan saat ini menjadi sangat penting artinya terutama untuk mengatasi permasalahan limbah organik, seperti untuk mengatasi masalah sampah di kota-kota besar, limbah organik industri, serta limbah pertanian dan perkebunan. Teknologi pengomposan sampah sangat beragam, baik secara aerobik maupun anaerobik, dengan atau tanpa aktivator pengomposan. Aktivator pengomposan yang sudah banyak beredar antara lain: PROMI (Promoting Microbes), OrgaDec, SuperDec, ActiComp, BioPos, EM4, Green Phoskko Organic Decomposer dan SUPERFARM (Effective Microorganism)atau menggunakan cacing guna mendapatkan kompos (vermicompost).
 Setiap aktivator memiliki keunggulan sendiri-sendiri. Pengomposan secara aerobik paling banyak digunakan, karena mudah dan murah untuk dilakukan, serta tidak membutuhkan kontrol proses yang terlalu sulit. Dekomposisi bahan dilakukan oleh mikroorganisme di dalam bahan itu sendiri dengan bantuan udara. Sedangkan pengomposan secara anaerobik memanfaatkan mikroorganisme yang tidak membutuhkan udara dalam mendegradasi bahan organik.
V.                ALAT DAN BAHAN
A.    Alat
1.      Drum Plastik
2.      Cangkul
B.     Bahan
1.      Kotoran kandang sapi
2.      Daun-daunan legume
3.      Dedak
4.      Dolomite
5.      Urea
6.      Decomposer ( EM4, standec, bidang kompos )
7.      Air
VI.             CARA KERJA
A.    Perlakuan
1.      Kotoran kandang + bahan pekaya hara yang telah di cacah ( daun legume, dedak, arang , sekam  guano,)
2.      Kotoran kandang + bahan pekaya hara yang telah di cacah ( daun legume, dedak, arang , sekam  guano,)+ ( dolomite + urea )
3.      Kotoran kandang + bahan pekaya hara yang telah di cacah ( daun legume, dedak, arang , sekam  guano,)+ ( dolomite + urea )+ decomposer ( stardec )
4.      Kotoran kandang + bahan pekaya hara yang telah di cacah ( daun legume, dedak, arang , sekam  guano,)+ dolomite + urea ) decomposer ( EM-4)
5.      Kotoran kandang + bahan pekaya hara yang telah di cacah ( daun legume, dedak, arang , sekam  guano,)+ ( dolomite + urea )+ decomposer ( bidang kompos
B.     Cara Pembuatan
1.      Buat pengantdukan bahan kompos setinggi 60 cm yang terdiri dari 6 lapisan , setiap lapisan setebal 10 cm , berselang seling di antara kotoran kandang dan bahan pengkaya
2.      Pada tiap lapisan taburkan decomposer dengan takaran sesuai ketentuan
3.      Tambahakan air secukupnya sehingga kadar lengas mencapai sekitar 50 %
4.      Setiap 2 hari atau jika temperature > 50 % ( cek dengan thermometer), tumpukan di bongkar dan di bolak-balik agar aerasi dan temperatur optimum . jika bahan terlalu kering tambahkan air secukupnya, dan buat tumpukan kembali seperti semula
5.      Kompos akan matang sekitar 4-6 minggu, kompos di ayak dengan ayakan , bahan yang tidak lolos saringan dikomposkan kembali.


C.     Pengamatan
1.      Setiap minggu di lakukan pengaturan temperatur , volume gundukan, dan kadar lengas.
2.      Pada akhir dan fisik, kompos sudah matang dan bermutu apabila :
·         Struktur ramah, ringan, kersai, lunak dan tidak menggumpal maupun melumpur
·         Warna kompos coklat kehitaman, apabila terlalu hitam disebabkan oleh kondisi pengomposan yang terlalu basah(anaerob).jika terlalu cerah disebabkan oleh kondisi pengomposan yang tterlalu kering ( aerob )
·         Kadar air sekitar 30 % apabila dip eras dengan tangan tidak ada air yang menetes
·         Aroma menyerupai humus tanah yaitu agak harum ( tidak berbau busuk )
·         pH sekitar 6-7. Apabila pH terlalu masam/ rendah berarti kondisi aerasi saat proses pengomposan kurang bagus
·         kadar bahan organic 30-60% , nisbah C/N sekitar 15
D.    Sampel kompos yang sudah matang dianalisis di laboraturium yang meliputi :
a.       Kadar unsur N,P,K dan BO ( menghitung nisbah C/N untuk menetukan kematangan kompos ). Jika C/N < 20 jikaC/N mendekati 10-12 merupakan kompos dengan kematangan / proses dekomposisi yang sudah sempurna
b.      Kadar lengas kompos,pH dan DHL
VII.        HASIL PENGAMATAN
Untuk Mengetahui hasil dari kompos yang telah kita buat dan telah kita amati , kita dapat melakukan pengamatan ini dengan cara di antaranya yaitu :
1.      Tekstur pada kompos  : Hasil Tekstur  kompos yang kita buat yaitu remah
2.      Bau yang di hasilkan kompos : seharusnya kompos yang sudah matang ataupun berhasil bau, namun hasil dari pengamatan kompos yang kita buat dan kita amati, kompos yang kita buat terasa bau tanah
3.      Warna pada kompos : Warna yang di hasilkan dari kompos yang telah di buat ialah memiliki Coklat kehitaman Tua
4.      Kelembaban yang terdapat pada kompos yang di buat yaitu Terlalu lembab
5.      Kondisi yang terdapat pada kompos yaitu panas
               



            Gambar 1 : Kompos




            Gambar 2: Kompos


VIII.     PEMBAHASAN
Kompos merupakan Hasil perombakan bahan organic oleh mikroorganisme dengan hasil akhir berupa bahan yang memiliki nisbah C/N yang rendah (<20). Dalam praktikum yang kita lakukan dalam acara lima ini kita mencoba membuat kompos , dimana dalam membuat kompos ini kita menggunakan alat ataupun bahan yang kita gunakan yaitu bahan kotoran sapi , arang sekam dan daun-daunan legume, dedak, dolomite,urea, guano, caking telur , decomposer (EM4, stardec, biang kompos),air dan kemudian dalam pembuatan kompos ini kita menggunakan alat yaitu cangkul dan alat pengaduk atau kayu. Pembuatan kompos yang kita lakukan ini bertujuan yaitu mampu membuat kompos dengan bahan kotoran kandang , dan dalam memlakukan pembuatan kompos ini kita harus mengetahui cara pembuatanya yaitu seperti buat gundukan bahan kompos setinggi 60 cm yang terdiri dari enam lapisan , setiap lapisan memiliki ketebalan 10 cm , berselang seling antara kotoran kandang dan bahan perkaya.
 kemudian pada tiap lapisan taburkan dekomposer dengan takaran sesuai ketentuan, tambahkan air  secukupnya sehingga kadar lengas mencapai sekitar 50 % dan setiap dua hari atau jika temperatur > 50 % ( cek dengan thermometer), tumpukan di bongkar dan di bolak balik agar aerasi dan temperatur optimum, jika bahan terlalu kering , tambahkan air secukupnya , dan buat tumpukan kembali seperti semula, dan kemudian kompos akan matang sekitar 4-6 minggu, kompos di ayak dengan ayakan , bahan yang tidak lolos mata saringan dikomposan kembali. Untuk mendapatkan hasil ataupun keberhasilan dalam membuat kompos kita dapat melakukan pengamatan setiap 2 minggu sekali dan di aduk bila lembab, jika kering di kasih air secukupnya tidak boleh kelebihan , karena jika kelebihan air  maka akan lembab sehingga akan banyak tumbuh jamur pada kompos tertentu, sedangkan kekeringan tidak bagus karena di dalam kompos yang belum jadi , proses dekomposisi pada kompos di bantu oleh mikroorganisme sehingga membutuhkan air dalam proses tersebu, dan jika kompos kering dan kekurangan air maka proses pembusukan pada kompos pun lama, maka itu kita harus membolak balik kompos sehingga merata pembusukan tersebut. Untuk mengetahui cirri-ciri kompos yang sudah jadi atau sudah matang yaitu; dengan tidak tercium baunya, adan kemudian tidak adanya mikroorganisme yang terdapat di kompos, dan kemudian kompos tidak berjamur, warna pada kompos kehitaman tua.
Dalam praktikum pembuatan kompos yang kita lakukan,  kita telah mengetahui hasilnya dimana hasil yang kita ke tahui ialah pada warna yaitu kehitaman tua dan baunya tercium tanah dan tekstur pada komposnya remah, dan kelembaban sangat lembab, dan memiliki suhu panas. Syarat lokasi yang bagus untuk pembuatan kompos adalah di antaranya pada bangunan yang memiliki lantai rata, keras dan bebas genangan air, serta ada atap untuk melindungi dari panas mataharu langsung dan air hujan dan dekat dengan sumber bahan organik,  jerami daun legume,  pupuk kandang, sampah, dedak, arang sekam dan dekat sumber air dan pengakutan mudah.
IX.           KESIMPULAN
Pada praktikum yang kita lakukan dan kita amati kita dapat menyimpulkan sebagai berikut :
1.     Kompos yang  memiliki warna hitam tua dan berjamur kompos tersebut tidak jadi
2.     Kompos merupakan Hasil perombakan bahan organic oleh mikroorganisme dengan hasil akhir berupa bahan yang memiliki nisbah C/N yang rendah (< 15). Dalam praktikum yang kita lakukan dalam acara lima ini kita mencoba membuat kompos
3.     Kompos yang kita amati memiliki bau , dan warna hitam tua, kelembabanya sangat lembab, dan testur kompos remah
4.     Kompos yang sudah matang memiliki C/N < 15
5.     Kompos yang ideal apabila C/N 10-12
6.     Kompos yang sudah jadi bisa di lihat dengan cara melihat atau merasakan bau, dan warna, testur pada kompos, kemudian kelembaban.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2014. Buku Petunjuk Praktikum Kesuburan dan Kesehatan Tanah , Institut Pertanian STIPER, Yogyakarta
Rinsema,W.T.1983.Pupuk Dan Cara Pemupukan bhratara karya aksara. Jakarta
Schroeder,D.1983.Soil-Facts And Concept. Int.potash institute bern, switzerland




Tidak ada komentar:

Posting Komentar