I.
ACARA V :
Pembuatan
Kompos
II.
TANGGAL : 23 September
2014
III.
TUJUAN
1. Mampu membuat kompos dengan bahan dasar
kotoran kandang
IV.
DASAR
TEORI
Kompos
adalah hasil penguraian parsial/tidak lengkap dari campuran bahan-bahan organik
yang dapat dipercepat secara artifisial oleh populasi berbagai macam mikroba dalam kondisi lingkungan yang
hangat, lembap, dan aerobik atau anaerobik (Modifikasi dari J.H. Crawford,
2003). Sedangkan pengomposan adalah proses dimana bahan organik
mengalami penguraian secara biologis, khususnya oleh mikroba-mikroba yang
memanfaatkan bahan organik sebagai sumber energi.
Membuat kompos adalah mengatur dan mengontrol proses alami tersebut agar kompos
dapat terbentuk lebih cepat. Proses ini meliputi membuat campuran bahan yang
seimbang, pemberian air yang cukup, pengaturan aerasi, dan penambahan aktivator
pengomposan.
Sampah
terdiri dari dua bagian, yaitu bagian organik dan anorganik. Rata-rata
persentase bahan organik sampah mencapai ±80%, sehingga
pengomposan merupakan alternatif penanganan yang sesuai. Kompos sangat
berpotensi untuk dikembangkan mengingat semakin tingginya jumlah sampah organik
yang dibuang ke tempat pembuangan akhir dan menyebabkan terjadinya polusi bau
dan lepasnya gas metana ke udara. DKI Jakarta menghasilkan 6000 ton
sampah setiap harinya, di mana sekitar 65%-nya adalah sampah organik. Dan dari
jumlah tersebut, 1400 ton dihasilkan oleh seluruh pasar
yang ada di Jakarta, di mana 95%-nya adalah sampah organik. Melihat besarnya
sampah organik yang dihasilkan oleh masyarakat, terlihat potensi untuk mengolah
sampah organik menjadi pupuk organik demi kelestarian lingkungan dan
kesejahteraan masyarakat (Rohendi, 2005)
Secara
alami bahan-bahan organik akan mengalami penguraian di alam dengan bantuan
mikroba maupun biota tanah lainnya. Namun proses
pengomposan yang terjadi secara alami berlangsung lama dan lambat. Untuk
mempercepat proses pengomposan ini telah banyak dikembangkan
teknologi-teknologi pengomposan. Baik pengomposan dengan teknologi sederhana,
sedang, maupun teknologi
tinggi. Pada prinsipnya pengembangan teknologi pengomposan didasarkan pada
proses penguraian bahan organik yang terjadi secara alami. Proses penguraian
dioptimalkan sedemikian rupa sehingga pengomposan dapat berjalan dengan lebih
cepat dan efisien. Teknologi pengomposan saat ini menjadi sangat penting
artinya terutama untuk mengatasi permasalahan limbah organik, seperti untuk
mengatasi masalah sampah di kota-kota besar, limbah organik industri, serta limbah
pertanian dan perkebunan. Teknologi pengomposan sampah sangat beragam, baik
secara aerobik maupun anaerobik, dengan atau tanpa aktivator
pengomposan. Aktivator pengomposan yang sudah banyak beredar antara lain: PROMI
(Promoting Microbes), OrgaDec, SuperDec, ActiComp, BioPos, EM4, Green Phoskko
Organic Decomposer dan SUPERFARM (Effective Microorganism)atau menggunakan cacing
guna mendapatkan kompos (vermicompost).
Setiap aktivator memiliki keunggulan
sendiri-sendiri. Pengomposan secara aerobik paling banyak digunakan, karena
mudah dan murah untuk dilakukan, serta tidak membutuhkan kontrol proses yang
terlalu sulit. Dekomposisi bahan dilakukan oleh mikroorganisme di dalam bahan itu
sendiri dengan bantuan udara. Sedangkan pengomposan secara anaerobik
memanfaatkan mikroorganisme yang tidak membutuhkan udara dalam mendegradasi
bahan organik.
V.
ALAT
DAN BAHAN
A. Alat
1. Drum
Plastik
2. Cangkul
B. Bahan
1. Kotoran
kandang sapi
2. Daun-daunan
legume
3. Dedak
4. Dolomite
5. Urea
6. Decomposer
( EM4, standec, bidang kompos )
7. Air
VI.
CARA
KERJA
A. Perlakuan
1. Kotoran
kandang + bahan pekaya hara yang telah di cacah ( daun legume, dedak, arang ,
sekam guano,)
2. Kotoran
kandang + bahan pekaya hara yang telah di cacah ( daun legume, dedak, arang ,
sekam guano,)+ ( dolomite + urea )
3. Kotoran
kandang + bahan pekaya hara yang telah di cacah ( daun legume, dedak, arang ,
sekam guano,)+ ( dolomite + urea )+
decomposer ( stardec )
4. Kotoran
kandang + bahan pekaya hara yang telah di cacah ( daun legume, dedak, arang ,
sekam guano,)+ dolomite + urea )
decomposer ( EM-4)
5. Kotoran
kandang + bahan pekaya hara yang telah di cacah ( daun legume, dedak, arang ,
sekam guano,)+ ( dolomite + urea )+
decomposer ( bidang kompos
B. Cara
Pembuatan
1. Buat
pengantdukan bahan kompos setinggi 60 cm yang terdiri dari 6 lapisan , setiap
lapisan setebal 10 cm , berselang seling di antara kotoran kandang dan bahan
pengkaya
2. Pada
tiap lapisan taburkan decomposer dengan takaran sesuai ketentuan
3. Tambahakan
air secukupnya sehingga kadar lengas mencapai sekitar 50 %
4. Setiap
2 hari atau jika temperature > 50 % ( cek dengan thermometer), tumpukan di
bongkar dan di bolak-balik agar aerasi dan temperatur optimum . jika bahan
terlalu kering tambahkan air secukupnya, dan buat tumpukan kembali seperti
semula
5. Kompos
akan matang sekitar 4-6 minggu, kompos di ayak dengan ayakan , bahan yang tidak
lolos saringan dikomposkan kembali.
C. Pengamatan
1. Setiap
minggu di lakukan pengaturan temperatur , volume gundukan, dan kadar lengas.
2. Pada
akhir dan fisik, kompos sudah matang dan bermutu apabila :
·
Struktur ramah, ringan, kersai, lunak
dan tidak menggumpal maupun melumpur
·
Warna kompos coklat kehitaman, apabila
terlalu hitam disebabkan oleh kondisi pengomposan yang terlalu basah(anaerob).jika
terlalu cerah disebabkan oleh kondisi pengomposan yang tterlalu kering ( aerob
)
·
Kadar air sekitar 30 % apabila dip eras
dengan tangan tidak ada air yang menetes
·
Aroma menyerupai humus tanah yaitu agak
harum ( tidak berbau busuk )
·
pH sekitar 6-7. Apabila pH terlalu
masam/ rendah berarti kondisi aerasi saat proses pengomposan kurang bagus
·
kadar bahan organic 30-60% , nisbah C/N
sekitar 15
D. Sampel
kompos yang sudah matang dianalisis di laboraturium yang meliputi :
a. Kadar
unsur N,P,K dan BO ( menghitung nisbah C/N untuk menetukan kematangan kompos ).
Jika C/N < 20 jikaC/N mendekati 10-12 merupakan kompos dengan kematangan /
proses dekomposisi yang sudah sempurna
b. Kadar
lengas kompos,pH dan DHL
VII.
HASIL
PENGAMATAN
Untuk
Mengetahui hasil dari kompos yang telah kita buat dan telah kita amati , kita
dapat melakukan pengamatan ini dengan cara di antaranya yaitu :
1. Tekstur
pada kompos : Hasil Tekstur kompos yang kita buat yaitu remah
2. Bau
yang di hasilkan kompos : seharusnya kompos yang sudah matang ataupun berhasil bau,
namun hasil dari pengamatan kompos yang kita buat dan kita amati, kompos yang
kita buat terasa bau tanah
3. Warna
pada kompos : Warna yang di hasilkan dari kompos yang telah di buat ialah
memiliki Coklat kehitaman Tua
4. Kelembaban
yang terdapat pada kompos yang di buat yaitu Terlalu lembab
5. Kondisi
yang terdapat pada kompos yaitu panas
Gambar 1 : Kompos
Gambar
2: Kompos
VIII.
PEMBAHASAN
Kompos
merupakan Hasil perombakan bahan organic oleh mikroorganisme dengan hasil akhir
berupa bahan yang memiliki nisbah C/N yang rendah (<20). Dalam praktikum
yang kita lakukan dalam acara lima ini kita mencoba membuat kompos , dimana
dalam membuat kompos ini kita menggunakan alat ataupun bahan yang kita gunakan
yaitu bahan kotoran sapi , arang sekam dan daun-daunan legume, dedak,
dolomite,urea, guano, caking telur , decomposer (EM4, stardec, biang
kompos),air dan kemudian dalam pembuatan kompos ini kita menggunakan alat yaitu
cangkul dan alat pengaduk atau kayu. Pembuatan kompos yang kita lakukan ini
bertujuan yaitu mampu membuat kompos dengan bahan kotoran kandang , dan dalam
memlakukan pembuatan kompos ini kita harus mengetahui cara pembuatanya yaitu
seperti buat gundukan bahan kompos setinggi 60 cm yang terdiri dari enam
lapisan , setiap lapisan memiliki ketebalan 10 cm , berselang seling antara
kotoran kandang dan bahan perkaya.
kemudian pada tiap lapisan taburkan dekomposer
dengan takaran sesuai ketentuan, tambahkan air
secukupnya sehingga kadar lengas mencapai sekitar 50 % dan setiap dua
hari atau jika temperatur > 50 % ( cek dengan thermometer), tumpukan di
bongkar dan di bolak balik agar aerasi dan temperatur optimum, jika bahan
terlalu kering , tambahkan air secukupnya , dan buat tumpukan kembali seperti
semula, dan kemudian kompos akan matang sekitar 4-6 minggu, kompos di ayak
dengan ayakan , bahan yang tidak lolos mata saringan dikomposan kembali. Untuk
mendapatkan hasil ataupun keberhasilan dalam membuat kompos kita dapat
melakukan pengamatan setiap 2 minggu sekali dan di aduk bila lembab, jika
kering di kasih air secukupnya tidak boleh kelebihan , karena jika kelebihan
air maka akan lembab sehingga akan
banyak tumbuh jamur pada kompos tertentu, sedangkan kekeringan tidak bagus
karena di dalam kompos yang belum jadi , proses dekomposisi pada kompos di
bantu oleh mikroorganisme sehingga membutuhkan air dalam proses tersebu, dan
jika kompos kering dan kekurangan air maka proses pembusukan pada kompos pun
lama, maka itu kita harus membolak balik kompos sehingga merata pembusukan
tersebut. Untuk mengetahui cirri-ciri kompos yang sudah jadi atau sudah matang
yaitu; dengan tidak tercium baunya, adan kemudian tidak adanya mikroorganisme
yang terdapat di kompos, dan kemudian kompos tidak berjamur, warna pada kompos
kehitaman tua.
Dalam
praktikum pembuatan kompos yang kita lakukan, kita telah mengetahui hasilnya dimana hasil
yang kita ke tahui ialah pada warna yaitu kehitaman tua dan baunya tercium
tanah dan tekstur pada komposnya remah, dan kelembaban sangat lembab, dan
memiliki suhu panas. Syarat lokasi yang bagus untuk pembuatan kompos adalah di
antaranya pada bangunan yang memiliki lantai rata, keras dan bebas genangan
air, serta ada atap untuk melindungi dari panas mataharu langsung dan air hujan
dan dekat dengan sumber bahan organik, jerami daun legume, pupuk kandang, sampah, dedak, arang sekam dan
dekat sumber air dan pengakutan mudah.
IX.
KESIMPULAN
Pada
praktikum yang kita lakukan dan kita amati kita dapat menyimpulkan sebagai
berikut :
1. Kompos
yang memiliki warna hitam tua dan
berjamur kompos tersebut tidak jadi
2. Kompos
merupakan Hasil perombakan bahan organic oleh mikroorganisme dengan hasil akhir
berupa bahan yang memiliki nisbah C/N yang rendah (< 15). Dalam praktikum
yang kita lakukan dalam acara lima ini kita mencoba membuat kompos
3. Kompos
yang kita amati memiliki bau , dan warna hitam tua, kelembabanya sangat lembab,
dan testur kompos remah
4. Kompos
yang sudah matang memiliki C/N < 15
5. Kompos
yang ideal apabila C/N 10-12
6. Kompos
yang sudah jadi bisa di lihat dengan cara melihat atau merasakan bau, dan
warna, testur pada kompos, kemudian kelembaban.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2014. Buku Petunjuk Praktikum Kesuburan dan
Kesehatan Tanah , Institut Pertanian STIPER, Yogyakarta
Rinsema,W.T.1983.Pupuk Dan Cara Pemupukan bhratara karya
aksara. Jakarta
Schroeder,D.1983.Soil-Facts And Concept. Int.potash
institute bern, switzerland
Tidak ada komentar:
Posting Komentar