I.
ACARA :
Menentukan Iklim Suatu Tempat
II.
TANGGAL :
12 Maret 2014
III.
TUJUAN :
1. Melatih
mahasiswa atau peserta menyatuhkan berbagai anasir iklim guna untuk menentukan
iklim.
2. Melatih
mahasiswa atau peserta mengetahui dan mengurangi hubungan tipe iklim dengan
keadaaan tanaman setempat.
IV.
PENDAHULUAN
Unsur-unsur iklim yang
menunjukan pola keragaman yang jelas merupakan dasar dalam melakukan
klasifikasi iklim. Unsur iklim yang sering dipakai adalah suhu dan curah hujan
(presipitasi). Klasifikasi iklim umumnya sangat spesifik yang didasarkan atas
tujuan penggunaannya, misalnya untuk pertanian, penerbangan atau kelautan.
Pengklasifikasian iklim yang spesifik tetap menggunakan data unsur iklim
sebagai landasannya, tetapi hanya memilih data unsur-unsur iklim yang
berhubungan dan secara langsung mempengaruhi aktivitas atau objek dalam
bidang-bidang tersebut (Lakitan, 2002). Thornthwaite (1933) dalam Tjasyono
(2004) menyatakan bahwa tujuan klasifikasi iklim adalah menetapkan pembagian
ringkas jenis iklim ditinjau dari segi unsur yang benar-benar aktif terutama
presipitasi dan suhu. Unsur lain seperti angin, sinar matahari, atau perubahan
tekanan ada kemungkinan merupakan unsur aktif untuk tujuan khusus.
Indonesia
adalah negara yang sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai
petani, oleh sebab itu pengklasifikasian iklim di Indonesia sering ditekankan
pada pemanfaatannya dalam kegiatan budidaya pertanian. Pada daerah tropik suhu
udara jarang menjadi faktor pembatas kegiatan produksi pertanian, sedangkan
ketersediaan air merupakan faktor yang paling menentukan dalam kegiatan
budidaya pertanian khususnya budidaya padi. Variasi suhu di
kepulauan Indonesia tergantung pada ketinggian tempat (altitude/elevasi), suhu
udara akan semakin rendah seiring dengan semakin tingginya ketinggian tempat
dari permukaan laut. Suhu menurun sekitar 0.6 oC setiap 100 meter kenaikan
ketinggian tempat. Keberadaan lautan disekitar kepulauan Indonesia ikut
berperan dalam menekan gejolak perubahan suhu udara yang mungkin timbul
(Lakitan, 2002). Menurut Hidayati (2001) karena Indonesia berada di wilayah
tropis maka selisih suhu siang dan suhu malam hari lebih besar dari pada
selisih suhu musiman (antara musim kemarau dan musim hujan), sedangkan di
daerah sub tropis hingga kutub selisih suhu musim panas dan musim dingin lebih
besar dari pada suhu harian. Kadaan suhu yang demikian tersebut membuat para
ahli membagi klasifikasi suhu di Indonesia berdasarkan ketinggian tempat.
Hujan merupakan unsur fisik lingkungan yang paling
beragam baik menurut waktu maupun tempat dan hujan juga merupakan faktor
penentu serta faktor pembatas bagi kegiatan pertanian secara umum, oleh karena
itu klasifikasi iklim untuk wilayah Indonesia (Asia Tenggara umumnya)
seluruhnya dikembangkan dengan menggunakan curah hujan sebagai kriteria utama
(Lakitan, 2002). Tjasyono (2004) mengungkapkan bahwa dengan adanya hubungan
sistematik antara unsur iklim dengan pola tanam dunia telah melahirkan
pemahaman baru tentang klasifikasi iklim, dimana dengan adanya korelasi antara
tanaman dan unsur suhu atau presipitasi menyebabkan indeks suhu atau
presipitasi dipakai sebagai kriteria dalam pengklasifikasian iklim.
Sistem Klasifikasi Mohr
:Klasifikasi Mohr didasarkan pada hubungan antara penguapan dan besarnya curah
hujan, dari hubungan ini didapatkan tiga jenis pembagian bulan dalam kurun
waktu satu tahun dimana keadaan yang disebut bulan basah apabila curah hujan
>100 mm per bulan, bulan lembab bila curah hujan bulan berkisar antara 100 –
60 mm dan bulan kering bila curah hujan < 60 mm per bulan (Anon, ?).
Sistem Klasifikasi Schmidt-Ferguson : Sistem iklim ini sangat terkenal di Indonesia. Menurut Irianto, dkk (2000) penyusunan peta iklim menurut klasifikasi Schmidt-Ferguson lebih banyak digunakan untuk iklim hutan. Pengklasifikasian iklim menurut Schmidt-Ferguson ini didasarkan pada nisbah bulan basah dan bulan kering seperti kriteria bulan basah dan bulan kering klsifikasi iklim Mohr. Pencarian rata-rata bulan kering atau bulan basah (X) dalam klasifikasian iklim Schmidt-Ferguson dilakukan dengan membandingkan jumlah/frekwensi bulan kering atau bulan basah selama tahun pengamatan ( åf ) dengan banyaknya tahun pengamatan (n) (Anon, ? ; Safi’i, 1995).
Sistem Klasifikasi Schmidt-Ferguson : Sistem iklim ini sangat terkenal di Indonesia. Menurut Irianto, dkk (2000) penyusunan peta iklim menurut klasifikasi Schmidt-Ferguson lebih banyak digunakan untuk iklim hutan. Pengklasifikasian iklim menurut Schmidt-Ferguson ini didasarkan pada nisbah bulan basah dan bulan kering seperti kriteria bulan basah dan bulan kering klsifikasi iklim Mohr. Pencarian rata-rata bulan kering atau bulan basah (X) dalam klasifikasian iklim Schmidt-Ferguson dilakukan dengan membandingkan jumlah/frekwensi bulan kering atau bulan basah selama tahun pengamatan ( åf ) dengan banyaknya tahun pengamatan (n) (Anon, ? ; Safi’i, 1995).
V.
ALAT
DAN BAHAN
a. Bahan
1. Data
curah hujan ( CH ) Bulan selama 10 tahun
di suatu tempat
2. Data
rata-rata suhu udara ( T ) bulanan
3. Data
tinggi tempat
4. Data
pendukung : pola tanaman , vegetasi dominan, dan tanah
VI.
CARA KERJA
Metode
1. Gunakan
data CH,HH dan T untuk menganalisis tipe iklim daerah setempat menggunakan
sistem klasifkasi Mohr, Schmidt & Ferguson, Oldemen dan Koppen
a. Sistem
klsifikasi Mohr
1. Buatlah
tabel dengan kolom- kolom bulan, CH pertahun , CH rerata dan derajad bulan
basah ( DKB )
2. Masukan
semua data ke tabel hitunglah curah hujan rerata bulan – bulan sejenis
3. Tentukan
derajad kebasahan bulan masing – masing curah hujan rerata , masukan ke kolom
DKB
4. Dari
kolom DKB, hitunglah jumlah bulan kering ( BK ) dan bulan basah ( BB )
5. Tentukan
tipe iklim daerah setempat menurut penggolongan iklim Mohr
b. Sistem
klasifikasi Schmidt & Ferguson
1. Buatlah
tabel dengan kolom – kolom bulan, CH pertahun dengan kolom-kolom bulan, CH
pertahun dengan menggunakan kolom DKB pada setiap kolom pertahun .
2. Masukan
semua data ke tabel, tentukan DKB tiap data dan masukan ke kolom DKB
3. Hitunglah
jumlah BK , BL ,BB , selama 10 tahun
4. Htunglah
rerata BK ,BL,BB tiap tahun
5. Hitunglah
nilai Q dengan menggunakan rumus Q= rerata BK
6. Hitunglah
tipe iklim daerah setempat menurud pegolongan iklim Schimdt & ferguson
c. Sistem
klasifikasi oldemen
7. Buat
lah tabel dengan kolom –kolom seperti tabel pada sistem klasifikasi Schmidt
& feerguson
8. Masukan
semua data ke dalam tabel , tentukan DKB tiap data menurud kriteria Oldemen
9. Hitunglah
jumlah rerata BK,BL,BB selama 10 tahun
10. Buatlah
harga rerata BK,BL,BB ke dalam bentuk
angka bulat
11. Berdasarkan
perbulatan tersebut, tentukan tipe iklim daerah setempat menggunakan “ Sistem
klasifikasi Agroklimat” ( Oldemen and frase, 1952)
d. Sistem
klasifikasi koppen
1. Berdasarkan
pada data CH dan T setempat, istilah tabel indentifikasi untuk menentukan tipe
iklim dengan pertolongan tabel “ detersiminasiklim pada klasifikasi koppen “
dan di tuliskan hasil dan urutan determinasinya , berdasarkan pada data CH dan
T setempat, isilah tabel indentifikasi untuk menentukan tipe iklim dengan
pertolongan tabel “ determinasiklim pada klasifikasi koppen” dan tuliskan hasil
dan urusan determinasinya.
2. A.
Guakan data tinggi tempat ( H ) untuk menghitung besarnya
rerata besarnya tahunan ( T-Breaak ) dengan rumus T-Braak =
26,3 – 0,61 h ; ( h dalam hm )
B. hitunglah
rerata suhu tahunan empiris dengan cara membuat rerata dari suhu tahunan selama
10 tahun.
C. Hitunglah
putaran suhu tahunan ( oldemen, 1977 ) dengan rumus : T maks = 31,3 – 0,62h T
min = 22,8 – 0,53; ( H dalam hm )
3. Buatlah
uraian dari pendapat sodara tentang masing-masing sistem klasifikasi .
camtumkan sumber pustaka, jika menggunakan acuan
4. Bandingkanlah
masing-masing sistem klasifikasi baik kelebihan maupun kekurangan
5. Uraikanlah
kesesuian antara hasil analisis dengan keadaan tanaman setempat di tinjau dari
vegetasi dominan , pola tanaman , tanah , irigasi, dan tinggi tempat
6. Bandingkan
antara T – braak dengan rerata suhu tahunan yang di hitung secara impiris
VII.
HASIL PENGAMATAN
1. Data
curah hujan ( mm ) dan hari hujan kec.
Purwanegara Menurut Mohr
Tahun
|
1999
|
2000
|
2001
|
2002
|
2003
|
2004
|
2005
|
2006
|
2007
|
2008
|
jumlah
|
rerata
|
golongan
|
CH
|
CH
|
CH
|
CH
|
CH
|
CH
|
CH
|
CH
|
CH
|
CH
|
CH
|
CH
|
CH
|
|
jan
|
507
|
325
|
272
|
453
|
283
|
753
|
353
|
366
|
693
|
693
|
4698
|
469,8
|
BB
|
peb
|
260
|
280
|
248
|
307
|
355
|
490
|
172
|
403
|
484
|
484
|
3483
|
348,3
|
BB
|
mar
|
51
|
462
|
464
|
241
|
199
|
423
|
427
|
171
|
590
|
590
|
3608
|
360,8
|
BB
|
april
|
314
|
111
|
544
|
241
|
211
|
139
|
290
|
384
|
339
|
339
|
2892
|
289,2
|
BB
|
mei
|
23
|
155
|
217
|
186
|
290
|
229
|
109
|
87
|
254
|
254
|
1804
|
180,4
|
BB
|
juni
|
10
|
177
|
140
|
40
|
0
|
82
|
314
|
7
|
69
|
69
|
808
|
80,8
|
BL
|
juli
|
0
|
0
|
388
|
0
|
25
|
33
|
88
|
88
|
44
|
44
|
690
|
69
|
BL
|
agustus
|
0
|
38
|
49
|
27
|
59
|
42
|
76
|
201
|
66
|
66
|
624
|
62,4
|
BL
|
september
|
0
|
54
|
191
|
0
|
56
|
3
|
32
|
36
|
15
|
15
|
402
|
40,2
|
BL
|
oktober
|
19
|
524
|
584
|
334
|
111
|
515
|
523
|
2
|
497
|
497
|
3606
|
360,6
|
BB
|
nopember
|
230
|
515
|
537
|
218
|
121
|
554
|
435
|
206
|
478
|
478
|
3872
|
387,2
|
BB
|
desember
|
218
|
292
|
600
|
374
|
211
|
576
|
201
|
335
|
566
|
566
|
3839
|
383,9
|
BB
|
BB
|
5
|
9
|
11
|
8
|
8
|
8
|
9
|
7
|
8
|
8
|
81
|
8,1
|
|
BK
|
7
|
3
|
1
|
4
|
4
|
3
|
1
|
3
|
2
|
2
|
30
|
3
|
|
BL
|
0
|
0
|
0
|
0
|
0
|
1
|
2
|
2
|
2
|
2
|
9
|
0,9
|
Ket
BB : > dari 100
BK : < dari 60
BL : > dari 60
1. Sistem
klasifikasi Mohr curah hujan pada kec. Purwanegara
Q=
= 0,395
Kesimpulan : kecamatan purwanegara termasuk dalam
golongan daerah curah hujan agag basah karena mempunyai nilai 0,395 ( C. 0,333 ≤ Q < 0,600 Agak basah )
Tabel Tipe iklim menurut schmidt & ferguson
Golongan
|
Nilai Q
|
Keterangan
|
A
|
0 ≤Q
<0.143
|
Sangat basah
|
B
|
0.143 ≤Q
<0.333
|
basah
|
C
|
0.333 ≤Q
<0.600
|
Agak basah
|
D
|
0.600 ≤Q
<1.000
|
Sedang
|
E
|
1.000 ≤Q
<1.670
|
Agak kering
|
F
|
1.670 ≤Q
<3.000
|
Kering
|
G
|
3.000 ≤Q
<7.000
|
Sangat kering
|
H
|
7.000 ≤Q
<.......
|
Luar biasa
kering
|
2. Data
curah hujan ( mm ) dan hari hujan kec.
Purwanegara Menurut Schmidt &
Ferguson
Tahun
|
1999
|
2000
|
2001
|
2002
|
2003
|
2004
|
2005
|
2006
|
2007
|
2008
|
jumlah
|
rerata
|
golongan
|
CH
|
CH
|
CH
|
CH
|
CH
|
CH
|
CH
|
CH
|
CH
|
CH
|
CH
|
CH
|
CH
|
|
jan
|
507
|
325
|
272
|
453
|
283
|
753
|
353
|
366
|
693
|
693
|
4698
|
469,8
|
BB
|
peb
|
260
|
280
|
248
|
307
|
355
|
490
|
172
|
403
|
484
|
484
|
3483
|
348,3
|
BB
|
mar
|
51
|
462
|
464
|
241
|
199
|
423
|
427
|
171
|
590
|
590
|
3608
|
360,8
|
BB
|
april
|
314
|
111
|
544
|
241
|
211
|
139
|
290
|
384
|
339
|
339
|
2892
|
289,2
|
BB
|
mei
|
23
|
155
|
217
|
186
|
290
|
229
|
109
|
87
|
254
|
254
|
1804
|
180,4
|
BB
|
juni
|
10
|
177
|
140
|
40
|
0
|
82
|
314
|
7
|
69
|
69
|
808
|
80,8
|
BL
|
juli
|
0
|
0
|
388
|
0
|
25
|
33
|
88
|
88
|
44
|
44
|
690
|
69
|
BL
|
agustus
|
0
|
38
|
49
|
27
|
59
|
42
|
76
|
201
|
66
|
66
|
624
|
62,4
|
BL
|
september
|
0
|
54
|
191
|
0
|
56
|
3
|
32
|
36
|
15
|
15
|
402
|
40,2
|
BL
|
oktober
|
19
|
524
|
584
|
334
|
111
|
515
|
523
|
2
|
497
|
497
|
3606
|
360,6
|
BB
|
nopember
|
230
|
515
|
537
|
218
|
121
|
554
|
435
|
206
|
478
|
478
|
3872
|
387,2
|
BB
|
desember
|
218
|
292
|
600
|
374
|
211
|
576
|
201
|
335
|
566
|
566
|
3839
|
383,9
|
BB
|
BB
|
5
|
6
|
9
|
7
|
5
|
7
|
7
|
6
|
8
|
8
|
60
|
6,8
|
|
BK
|
7
|
3
|
1
|
4
|
4
|
3
|
3
|
5
|
4
|
4
|
34
|
3,8
|
|
BL
|
0
|
3
|
2
|
1
|
3
|
1
|
2
|
1
|
0
|
o
|
13
|
1,4
|
A.
Zona Bulan Basah
Pada data curah hujan
di kec.purwanegara terletak di Zona
ZONA
|
BULAN
BASAH
|
A
|
9 - 12.
|
B
|
7 - 8.√
|
C
|
5 - 6.
|
D
|
3 - 4.
|
E
|
<3
|
B. Subdivisi
bulan kering
Pada data curah hujandi
kec.purwanegara terletak pada bulan kering
SUB DIVISI
|
BULAN KERING ( BK )
|
1
|
1
|
2
|
2 - 3 .
|
3
|
4 - 6.√
|
4
|
7 - 6 .
|
Dapat di ambil
kesimpulan sebagai berikut : Menurut oldemen kecamatan Kec. Purwenegara
memasuki zona B dengan batasan 7 – 8 dan pada sub divisi terletak pada nomor 3
yaitu 4 – 6
C.
Segi tiga iklim oldemen

KET
§ Bulan
basah tarik ke dalam bulan kering
§ Bulan
kering tarik ke bulan basah
§ Bulan
lembab ke bulan basah
DAFTAR PUSTAKA
Anonim.
2014. Petunjuk Umum Praktikum Klimatologi
Pertanian. Institut Pertanian
STIPER. Yogyakarta.
Benyamin, Lakitan. 1994. Dasar-dasar
Klimatologi. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta
Doronbos, J. 1976.
Agro Meteorological Field Stations. Irigation and Drainage Paper. No.
27. FAO. Rome
Tidak ada komentar:
Posting Komentar