Laman

Selasa, 03 Maret 2015

Menentukan iklim suatu tempat



I.          ACARA              : Menentukan Iklim Suatu Tempat
II.       TANGGAL        : 12 Maret 2014
III.    TUJUAN                        :
1.      Melatih mahasiswa atau peserta menyatuhkan berbagai anasir iklim guna untuk menentukan iklim.
2.      Melatih mahasiswa atau peserta mengetahui dan mengurangi hubungan tipe iklim dengan keadaaan tanaman setempat.

IV.    PENDAHULUAN
Unsur-unsur iklim yang menunjukan pola keragaman yang jelas merupakan dasar dalam melakukan klasifikasi iklim. Unsur iklim yang sering dipakai adalah suhu dan curah hujan (presipitasi). Klasifikasi iklim umumnya sangat spesifik yang didasarkan atas tujuan penggunaannya, misalnya untuk pertanian, penerbangan atau kelautan. Pengklasifikasian iklim yang spesifik tetap menggunakan data unsur iklim sebagai landasannya, tetapi hanya memilih data unsur-unsur iklim yang berhubungan dan secara langsung mempengaruhi aktivitas atau objek dalam bidang-bidang tersebut (Lakitan, 2002). Thornthwaite (1933) dalam Tjasyono (2004) menyatakan bahwa tujuan klasifikasi iklim adalah menetapkan pembagian ringkas jenis iklim ditinjau dari segi unsur yang benar-benar aktif terutama presipitasi dan suhu. Unsur lain seperti angin, sinar matahari, atau perubahan tekanan ada kemungkinan merupakan unsur aktif untuk tujuan khusus.
 Indonesia adalah negara yang sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai petani, oleh sebab itu pengklasifikasian iklim di Indonesia sering ditekankan pada pemanfaatannya dalam kegiatan budidaya pertanian. Pada daerah tropik suhu udara jarang menjadi faktor pembatas kegiatan produksi pertanian, sedangkan ketersediaan air merupakan faktor yang paling menentukan dalam kegiatan budidaya pertanian khususnya budidaya padi. Variasi suhu di kepulauan Indonesia tergantung pada ketinggian tempat (altitude/elevasi), suhu udara akan semakin rendah seiring dengan semakin tingginya ketinggian tempat dari permukaan laut. Suhu menurun sekitar 0.6 oC setiap 100 meter kenaikan ketinggian tempat. Keberadaan lautan disekitar kepulauan Indonesia ikut berperan dalam menekan gejolak perubahan suhu udara yang mungkin timbul (Lakitan, 2002). Menurut Hidayati (2001) karena Indonesia berada di wilayah tropis maka selisih suhu siang dan suhu malam hari lebih besar dari pada selisih suhu musiman (antara musim kemarau dan musim hujan), sedangkan di daerah sub tropis hingga kutub selisih suhu musim panas dan musim dingin lebih besar dari pada suhu harian. Kadaan suhu yang demikian tersebut membuat para ahli membagi klasifikasi suhu di Indonesia berdasarkan ketinggian tempat.
Hujan merupakan unsur fisik lingkungan yang paling beragam baik menurut waktu maupun tempat dan hujan juga merupakan faktor penentu serta faktor pembatas bagi kegiatan pertanian secara umum, oleh karena itu klasifikasi iklim untuk wilayah Indonesia (Asia Tenggara umumnya) seluruhnya dikembangkan dengan menggunakan curah hujan sebagai kriteria utama (Lakitan, 2002). Tjasyono (2004) mengungkapkan bahwa dengan adanya hubungan sistematik antara unsur iklim dengan pola tanam dunia telah melahirkan pemahaman baru tentang klasifikasi iklim, dimana dengan adanya korelasi antara tanaman dan unsur suhu atau presipitasi menyebabkan indeks suhu atau presipitasi dipakai sebagai kriteria dalam pengklasifikasian iklim.
     Sistem Klasifikasi Mohr :Klasifikasi Mohr didasarkan pada hubungan antara penguapan dan besarnya curah hujan, dari hubungan ini didapatkan tiga jenis pembagian bulan dalam kurun waktu satu tahun dimana keadaan yang disebut bulan basah apabila curah hujan >100 mm per bulan, bulan lembab bila curah hujan bulan berkisar antara 100 – 60 mm dan bulan kering bila curah hujan < 60 mm per bulan (Anon, ?).
             Sistem Klasifikasi Schmidt-Ferguson : Sistem iklim ini sangat terkenal di Indonesia. Menurut Irianto, dkk (2000) penyusunan peta iklim menurut klasifikasi Schmidt-Ferguson lebih banyak digunakan untuk iklim hutan. Pengklasifikasian iklim menurut Schmidt-Ferguson ini didasarkan pada nisbah bulan basah dan bulan kering seperti kriteria bulan basah dan bulan kering klsifikasi iklim Mohr. Pencarian rata-rata bulan kering atau bulan basah (X) dalam klasifikasian iklim Schmidt-Ferguson dilakukan dengan membandingkan jumlah/frekwensi bulan kering atau bulan basah selama tahun pengamatan ( åf ) dengan banyaknya tahun pengamatan (n) (Anon, ? ; Safi’i, 1995).
V.       ALAT DAN BAHAN
a.       Bahan
1.  Data curah hujan ( CH )  Bulan selama 10 tahun di suatu tempat
2.  Data rata-rata suhu udara ( T ) bulanan
3.  Data tinggi tempat
4.  Data pendukung : pola tanaman , vegetasi dominan, dan tanah    
VI.      CARA KERJA
Metode
1.      Gunakan data CH,HH dan T untuk menganalisis tipe iklim daerah setempat menggunakan sistem klasifkasi Mohr, Schmidt & Ferguson, Oldemen dan Koppen
a.       Sistem klsifikasi Mohr
1.      Buatlah tabel dengan kolom- kolom bulan, CH pertahun , CH rerata dan derajad bulan basah ( DKB )
2.      Masukan semua data ke tabel hitunglah curah hujan rerata bulan – bulan sejenis
3.      Tentukan derajad kebasahan bulan masing – masing curah hujan rerata , masukan ke kolom DKB
4.      Dari kolom DKB, hitunglah jumlah bulan kering ( BK ) dan bulan basah ( BB )
5.      Tentukan tipe iklim daerah setempat menurut penggolongan iklim Mohr
b.      Sistem klasifikasi Schmidt & Ferguson
1.      Buatlah tabel dengan kolom – kolom bulan, CH pertahun dengan kolom-kolom bulan, CH pertahun dengan menggunakan kolom DKB pada setiap kolom pertahun .
2.      Masukan semua data ke tabel, tentukan DKB tiap data dan masukan ke kolom DKB
3.      Hitunglah jumlah BK , BL ,BB , selama 10 tahun
4.      Htunglah rerata BK ,BL,BB tiap tahun
5.      Hitunglah nilai Q dengan menggunakan rumus Q= rerata BK
6.      Hitunglah tipe iklim daerah setempat menurud pegolongan iklim Schimdt & ferguson
c.       Sistem klasifikasi oldemen
7.      Buat lah tabel dengan kolom –kolom seperti tabel pada sistem klasifikasi Schmidt & feerguson
8.      Masukan semua data ke dalam tabel , tentukan DKB tiap data menurud kriteria Oldemen
9.      Hitunglah jumlah rerata BK,BL,BB selama 10 tahun
10.  Buatlah harga rerata BK,BL,BB  ke dalam bentuk angka bulat
11.  Berdasarkan perbulatan tersebut, tentukan tipe iklim daerah setempat menggunakan “ Sistem klasifikasi Agroklimat” ( Oldemen and frase, 1952)
d.      Sistem klasifikasi koppen
1.      Berdasarkan pada data CH dan T setempat, istilah tabel indentifikasi untuk menentukan tipe iklim dengan pertolongan tabel “ detersiminasiklim pada klasifikasi koppen “ dan di tuliskan hasil dan urutan determinasinya , berdasarkan pada data CH dan T setempat, isilah tabel indentifikasi untuk menentukan tipe iklim dengan pertolongan tabel “ determinasiklim pada klasifikasi koppen” dan tuliskan hasil dan urusan determinasinya.
2.      A. Guakan data tinggi tempat ( H ) untuk menghitung besarnya 
     rerata besarnya tahunan ( T-Breaak ) dengan rumus T-Braak =
     26,3 – 0,61 h ; ( h dalam hm )
B.     hitunglah rerata suhu tahunan empiris dengan cara membuat rerata dari suhu tahunan selama 10 tahun.
C.     Hitunglah putaran suhu tahunan ( oldemen, 1977 ) dengan rumus : T maks = 31,3 – 0,62h T min = 22,8 – 0,53; ( H dalam hm )
3.      Buatlah uraian dari pendapat sodara tentang masing-masing sistem klasifikasi . camtumkan sumber pustaka, jika menggunakan acuan
4.      Bandingkanlah masing-masing sistem klasifikasi baik kelebihan maupun kekurangan
5.      Uraikanlah kesesuian antara hasil analisis dengan keadaan tanaman setempat di tinjau dari vegetasi dominan , pola tanaman , tanah , irigasi, dan tinggi tempat
6.      Bandingkan antara T – braak dengan rerata suhu tahunan yang di hitung secara impiris
VII.      HASIL PENGAMATAN
1.      Data curah hujan  ( mm ) dan hari hujan kec. Purwanegara Menurut Mohr
Tahun
1999
2000
2001
2002
2003
2004
2005
2006
2007
2008
jumlah
rerata
golongan

CH
CH
CH
CH
CH
CH
CH
CH
CH
CH
CH
CH
CH
jan
507
325
272
453
283
753
353
366
693
693
4698
469,8
BB
peb
260
280
248
307
355
490
172
403
484
484
3483
348,3
BB
mar
51
462
464
241
199
423
427
171
590
590
3608
360,8
BB
april
314
111
544
241
211
139
290
384
339
339
2892
289,2
BB
mei
23
155
217
186
290
229
109
87
254
254
1804
180,4
BB
juni
10
177
140
40
0
82
314
7
69
69
808
80,8
BL
juli
0
0
388
0
25
33
88
88
44
44
690
69
BL
agustus
0
38
49
27
59
42
76
201
66
66
624
62,4
BL
september
0
54
191
0
56
3
32
36
15
15
402
40,2
BL
oktober
19
524
584
334
111
515
523
2
497
497
3606
360,6
BB
nopember
230
515
537
218
121
554
435
206
478
478
3872
387,2
BB
desember
218
292
600
374
211
576
201
335
566
566
3839
383,9
BB
BB
5
9
11
8
8
8
9
7
8
8
81
8,1

BK
7
3
1
4
4
3
1
3
2
2
30
3

BL
0
0
0
0
0
1
2
2
2
2
9
0,9


Ket
BB : > dari 100
BK : < dari 60
BL :  >  dari 60
1.     Sistem klasifikasi Mohr curah hujan pada kec. Purwanegara
Q= = 0,395
Kesimpulan : kecamatan purwanegara termasuk dalam golongan daerah curah hujan agag basah karena mempunyai nilai 0,395  ( C. 0,333 ≤ Q < 0,600 Agak basah )

Tabel Tipe iklim menurut  schmidt & ferguson
Golongan
Nilai Q
Keterangan
A
0 ≤Q <0.143
Sangat basah
B
0.143 ≤Q <0.333
basah
C
0.333 ≤Q <0.600
Agak basah
D
0.600 ≤Q <1.000
Sedang
E
1.000 ≤Q <1.670
Agak kering
F
1.670 ≤Q <3.000
Kering
G
3.000 ≤Q <7.000
Sangat kering
H
7.000 ≤Q <.......
Luar biasa kering

2.      Data curah hujan  ( mm ) dan hari hujan kec. Purwanegara Menurut Schmidt  & Ferguson
Tahun
1999
2000
2001
2002
2003
2004
2005
2006
2007
2008
jumlah
rerata
golongan

CH
CH
CH
CH
CH
CH
CH
CH
CH
CH
CH
CH
CH
jan
507
325
272
453
283
753
353
366
693
693
4698
469,8
BB
peb
260
280
248
307
355
490
172
403
484
484
3483
348,3
BB
mar
51
462
464
241
199
423
427
171
590
590
3608
360,8
BB
april
314
111
544
241
211
139
290
384
339
339
2892
289,2
BB
mei
23
155
217
186
290
229
109
87
254
254
1804
180,4
BB
juni
10
177
140
40
0
82
314
7
69
69
808
80,8
BL
juli
0
0
388
0
25
33
88
88
44
44
690
69
BL
agustus
0
38
49
27
59
42
76
201
66
66
624
62,4
BL
september
0
54
191
0
56
3
32
36
15
15
402
40,2
BL
oktober
19
524
584
334
111
515
523
2
497
497
3606
360,6
BB
nopember
230
515
537
218
121
554
435
206
478
478
3872
387,2
BB
desember
218
292
600
374
211
576
201
335
566
566
3839
383,9
BB
BB
5
6
9
7
5
7
7
6
8
8
60
6,8

BK
7
3
1
4
4
3
3
5
4
4
34
3,8

BL
0
3
2
1
3
1
2
1
0
o
13
1,4


A.    Zona Bulan Basah
Pada data curah hujan di kec.purwanegara terletak di Zona
ZONA
BULAN BASAH
A
9 - 12.
B
7 - 8.√
C
5 - 6.
D
3 - 4.
E
<3

B.     Subdivisi bulan kering
Pada data curah hujandi kec.purwanegara terletak pada bulan kering

SUB DIVISI
BULAN KERING ( BK )
1
1
2
2 - 3 .
3
4 - 6.√
4
7 - 6 .

Dapat di ambil kesimpulan sebagai berikut : Menurut oldemen kecamatan Kec. Purwenegara memasuki zona B dengan batasan 7 – 8 dan pada sub divisi terletak pada nomor 3 yaitu 4 – 6
C.     Segi tiga iklim oldemen
oldeman.jpg
 




KET
§  Bulan basah tarik ke dalam bulan kering
§  Bulan kering tarik ke bulan basah
§  Bulan lembab ke bulan basah
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2014. Petunjuk Umum Praktikum Klimatologi Pertanian. Institut Pertanian STIPER. Yogyakarta.
Benyamin, Lakitan. 1994. Dasar-dasar Klimatologi. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta
Doronbos, J. 1976. Agro Meteorological Field Stations. Irigation and Drainage Paper. No. 27. FAO. Rome
























Tidak ada komentar:

Posting Komentar